Harta yang Menguatkan Watak: Pelajaran dari Kisah Qorun

Bagikan Keteman :


Kisah Qorun bukan sekadar cerita masa lalu tentang seorang kaya yang ditelan bumi. Ia adalah cermin kehidupan manusia sepanjang zaman — tentang bagaimana harta dapat memperlihatkan wajah sejati seseorang, dan betapa sulitnya menjaga kerendahan hati ketika dunia telah berada di genggaman.

Setelah membaca kisah Qorun dengan hati yang terbuka, kita mulai peka terhadap kenyataan di sekitar kita. Kita melihat ada orang-orang yang, dalam kelakar dan ucapannya, menunjukkan aroma kesombongan — meremehkan orang miskin, memamerkan harta, merasa lebih tinggi hanya karena memiliki materi. Sikap seperti ini, tanpa disadari, adalah pantulan sifat Qorun di zaman modern.


Watak Manusia dan Ujian Kekayaan

Harta pada hakikatnya tidak membentuk watak baru, melainkan memperkuat watak yang telah lama ada.
Jika sejak remaja seseorang sudah membenci kemiskinan — bukan karena ingin berjuang keluar dari keterbatasan, tetapi karena menganggap miskin itu hina — maka watak itu akan tumbuh bersama usianya.

Ketika kelak ia memperoleh kekayaan, kebencian terhadap kemiskinan berubah menjadi kesombongan terhadap orang miskin.
Ia merasa lebih tinggi, lebih layak dihormati, dan mulai bergaul hanya dengan mereka yang selevel. Ia ingin semua posisi penting berada dalam genggamannya, ingin terlihat berkuasa, ingin dikagumi, dan takut kehilangan status yang telah ia bangun.

Inilah manusia yang sejak muda menanam benih gengsi, dan ketika kaya, benih itu mekar menjadi ego yang menjulang.
Harta hanya menjadi air yang menyirami akar kesombongan dalam dirinya.


Benci Kemiskinan: Bukan Masalah Ekonomi, Tapi Masalah Spiritual

Ada dua jenis manusia yang sama-sama berdoa agar tidak miskin:

  1. Yang pertama, berdoa agar cukup supaya bisa menolong, memberi, dan tidak menjadi beban bagi orang lain — ini mulia.
  2. Yang kedua, berdoa agar tidak miskin karena takut dipandang rendah, takut dianggap hina, takut tak dihormati — ini bahaya.

Yang kedua inilah watak yang membentuk jiwa qaruniyah.
Ketika miskin, ia merasa terhina; ketika kaya, ia merasa berhak atas penghormatan.
Doanya bukan lagi tentang rezeki yang berkah, melainkan tentang status sosial.

Padahal, dalam pandangan Allah, kemuliaan bukan pada harta, tapi pada takwa:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)


Ketika Ego Menjadi Tuhan

Seseorang yang membenci kemiskinan dengan dasar gengsi, lama-lama akan menjadikan ego sebagai tuhannya sendiri.
Ia merasa hanya layak hidup di tengah kemewahan, merasa rendah bila sejajar dengan orang biasa.
Dalam pikirannya, yang layak dihargai hanyalah yang berjabatan, berharta, dan berpengaruh.

Ego semacam ini perlahan menggerogoti akal dan nurani.
Ia tak lagi mampu melihat keindahan kesederhanaan, apalagi merasakan nikmatnya kerendahan hati.
Dan di titik itu, seperti Qorun, ia akan berkata dalam hati:

“Ini semua karena ilmuku, karena usahaku.”
(QS. Al-Qashash: 78)

Ucapan itu mungkin tak terucap di bibir, tapi nyata dalam perilaku.
Dan itulah bentuk kesombongan yang paling halus — merasa cukup tanpa Tuhan.


Akar Masalahnya: Tidak Mengenal Rasa Cukup

Rasa cukup (qana‘ah) adalah harta paling berharga dalam kehidupan.
Namun seseorang yang tumbuh dengan kebencian terhadap kemiskinan tidak akan pernah bisa merasa cukup.
Berapa pun hartanya, ia selalu merasa kurang, sebab yang ia kejar bukan kebahagiaan, tapi pengakuan.

Ia bisa memiliki rumah megah, tapi hatinya sempit.
Ia bisa menumpuk emas, tapi tak pernah merasa aman.
Ia menjadi hamba dari hartanya sendiri — sibuk menjaga, tapi kehilangan makna hidup yang sejati.


Pelajaran Batin dari Qorun

Qorun dahulu bukan orang jahat. Ia awalnya dikenal saleh dan ahli ibadah.
Namun ketika Allah mengujinya dengan kekayaan, ia berubah.
Harta tidak membuatnya bersyukur, tapi membuatnya lupa diri.
Amalnya sirna, akalnya tertutup, dan akhirnya ia ditelan bumi bersama kesombongannya.

Dari sinilah kita belajar bahwa harta bukan sekadar nikmat, tetapi ujian.
Ia dapat menjadikan manusia mulia bila digunakan dengan syukur dan kasih sayang, namun dapat pula menjatuhkannya ke jurang nista bila menumbuhkan ego dan kesombongan.


Menjaga Hati Agar Tidak Menjadi Qorun Baru

Harta itu netral — yang berbahaya adalah cinta terhadap harta yang berlebihan.
Ketika manusia mulai mengukur kehormatan dengan jumlah uang, maka ia telah menjadikan dunia sebagai tuhannya.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kekayaan sejati bukan pada rekening, tapi pada ketenangan hati yang tidak diperbudak oleh dunia.
Hidup sederhana dengan hati lapang lebih mulia daripada hidup mewah dengan jiwa sempit.


Penutup: Doa agar Tidak Menjadi Qorun Zaman Ini

Kisah Qorun adalah peringatan abadi — bahwa manusia tidak berubah karena harta, melainkan terbongkar siapa dirinya sebenarnya.
Bila kita mencintai dunia secara berlebihan, maka dunia akan menelan kita seperti bumi menelan Qorun.
Namun bila kita mencintai Allah lebih dari segalanya, maka harta akan menjadi sahabat yang menuntun kita menuju surga.

“Ya Allah, jadikan kami kaya dalam hati, bukan dalam kesombongan.
Ajarkan kami arti cukup, agar kami tidak menjadi budak dunia.
Jika Engkau memberi harta, jadikan kami rendah hati;
dan jika Engkau menahan rezeki, jadikan kami tetap bersyukur.”


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment